PDM Kota Surakarta - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Surakarta
.: Home > Artikel

Homepage

SATV, Cikal Bakal Muhammadiyah Surakarta (Catatan Tambahan untuk Muarif)

.: Home > Artikel > PDM
06 Desember 2012 21:11 WIB
Dibaca: 2381
Penulis : Mohamad Ali

Mohamad Ali Sekretaris Lembaga Pustaka PDM Surakarta Tulisan Muarif di Suara Muhammadiyah (No 14-16/Th ke-95) tentang perkumpulan pra Muhammadiyah menarik untuk disimak dan didiskusikan lebih lanjut. Menarik, karena kajian sejarah Muhammadiyah lokal yang sejauh ini diabaikan, dapat memperkaya khasanah pengembangan dakwah, sekaligus sebagai cermin diri dalam merencanakan dan menatap masa depan secara bijak. Artikel ini dimaksudkan sebagai catatan tambahan terkait kemunculan persyarikatan Muhammadiyah di Surakarta. Benar, bahwa SATV (Sidik Amanah Tabligh Vathonah) adalah perkumpulan keagamaan lokal yang kemudian meleburkan diri menjadi Muhammadiyah. Namun demikian, dari awal SATV memang dipersiapkan sebagai cabang Muhammadiyah yang benihnya disebar oleh Kyai Ahmad Dahlan. Untuk memahami masalah tersebut, dibutuhkan penjelasan lebih rinci tentang dinamika organisasi dan proses peleburan itu berlangsung. Kalau dicermati secara seksama, ada satu hal yang mengemuka dalam uraian Muarif, yaitu memakai pendekatan (sejarah) pers atau pesurat-kabaran. Oleh karena itu, tidak aneh kalau kemudian sosok Misbach terlihat begitu menonjol dalam perjalanan SATV. Padahal, Misbach hanya satu tahun saja menjadi ketua SATV. Pendekatan pers tentu saja tidak keliru, tetapi kurang memadai pisau analisis untuk membedah keberadaan perkumpulan pra Muhammadiyah di Surakarta. Melalui pendekatan sejarah sosial, sebagaimana dilakukan dalam artikel ini, keberadaan SATV dapat diteropong lebih jelas. Akan diuraikan secara kronologis sesuai dengan perkembangan internal yang terjadi. Sebenarnya tidak terlalu mengherankan kalau Muhammadiyah sejak awal bisa hadir di Surakarta. Bukan hanya karena wilayahnya berdekatan (kira-kira 60 km) dan terdapat jalur transportasi kereta api yang begitu mudah dijangkau. Lebih dari itu, jaringan Yogya-Solo (Surakarta) semakin diperkuat karena melibatkan koneksi perdagangan batik dan hubungan-hubungan kekerabatan. Seperti diketahui, tatkala berdagang Kyai Ahmad Dahlan selalu meluangkan waktu untuk menemui kyai ataupun ulama berpengaruh setempat untuk menyampaikan gagasan pembaruannya. KHR Mohamad Adnan, rektor PTAIN Yogyakarta pertama, termasuk yang dikunjungi Kyai Ahmad Dahlan (Abdul Basit Adnan, 1990). Cara ini ternyata sangat efektif untuk membuka jalan lahirnya SATV di mana seluruh pelopornya adalah para santri pedagang batik di Kauman dan Laweyan. Sebelum SATV lahir, Kyai Ahmad Dahlan sudah demikian popular di kalangan umat Islam Surakarta. Peristiwa yang meroketkan namanya adalah perdebatan di muka umum antara Kyai Bagus Arfah, paman Kyai Ahmad Dahlan yang juga pimpinan madrasah Mambaul Ulum, dengan Kyai Suleman berkaitan dengan hukum menafsirkan Al-Quran. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1910. Posisi Kyai Bagus Arfah dalam keadaan terpojok, tetapi atas saran dan pendampingan Kyai Ahmad Dahlan kemudian dapat memenangi perdebatan itu secara gemilang. Umat Islam Surakarta menilai bahwa kemenangan Kyai Bagus Arfah tidak lepas dari peran Kyai Ahmad Dahlan, keponakannya, sebagai peracik strategi yang jitu. Dinamika SATV Sebagaimana dijelaskan Surono (1957: 51), kemunculan SATV bermula dari dibukanya ranting (kring) Sarekat Islam Kampungsewu, Kecamatan Jebers Surakarta pada tahun 1913. Di bawah kepemimpinan Darsosasmito perkumpulan ini merencanakan kursus (kajian) Islam tengah bulanan dengan mengundang Kyai kenamaan, di antaranya H. Misbach (1876-1924) dan KHR. Mohammad Adnan. Pada tahun 1914 rupanya kursus Islam ini semakin berkembang. Kegiatan itu disertai tanya jawab yang intensif sehingga pembicaraannya berkembang sedemikian rupa sampai-sampai memunculkan persoalan-persoalan yang tidak bisa terjawab, seperti tentang perbandingan agama, teosofi, kebatinan dan lain-lain. Untuk memahami dan mendalami permasalahan tersebut, H Misbach menyarankan agar mengundang Kyai Ahmad Dahlan. Saran H. Misbach bisa diterima seluruh peserta kursus Islam. Diterimanya usulan H. Misbach tentu tidak lepas dari kepopuleran Kyai Ahmad Dahlan di mata umat Islam Surakarta. Pada tahun 1916 terbentuklah panitia tabligh umum yang akan mendatangkan Kyai Ahmad Dahlan dengan susunan sebagai berikut: H. Misbach (ketua), Darsosasmito (wakil ketua), M. Harsolumakso (penulis), R.Ng Parikrangkungan (penulis II), R. Sontohartono (bendahara), M. Sukarno dan M. Sudiono sebagai pembantu. Panitia mempersiapkan acara secara matang. Sebab, kedatangan Kyai Ahmad Dahlan ke Surakarta ternyata akan dijadikan momentum untuk meresmikan keberadaan Muhammadiyah. Sebagaimana di tempat lain, seperti Banyuwangi, Surabaya, Pekalongan, kegiatan tabligh umum yang dihadiri Kyai Ahmad Dahlan sekaligus menandai dibukanya cabang baru Muhammadiyah. Satu tahun kemudian, 1917 acara tabligh umum baru bisa terlaksana bertempat di rumah Harsolumekso (Kerabon). Kegiatan ini dihadiri masyarakat umum dan mengundang sejumlah Kyai berpengaruh di Surakarta yang sehaluan dengan pemikiran Muhammadiyah, di antaranya Kyai Imam Bisri dan Kyai Idris Jamsaren. Dari Yogyakarta, Kyai Ahmad Dahlan mengajak serta Fachruddin, Hadjid, dan Bagus Hadikusumo. Setelah mendengar isi ceramah Kyai Ahmad Dahlan, niatan panitia tabligh umum untuk membentuk dan meresmikan Muhammadiyah cabang Surakarta semakin mantap. Panitia tabligh umum menjadi pengurus inti ditambah M Abu Thayib, R. Martodihardjo, R.M. Mangkutaruno, dan Muchtar Buchary (1899-1926). Sayang sekali, semangat mendidih umat Islam Surakarta untuk mendirikan Muhammadiyah di wilayahnya belum dapat terwujud saat itu. Keadaan ini terjadi karena terhalang beslit pemerintah Hindia Belanda yang membatasi ruang gerak Muhammadiyah terbatas di daerah Yogyakarta. Maka, sebagai jalan keluarnya, perkumpulan ini oleh Kyai Ahmad Dahlan diberi nama persyarikatan Sidik Amanah Tabligh Vathonah (SATV). Dengan demikian, sejak tahun 1917 persyarikatan Muhammadiyah telah memiliki cabang yang riil di Surakarta dengan nama SATV. Namun, secara hukum (di mata pemerintah kolonial), belum diakui. Maka tidak aneh kalau kegiatan SATV senafas dan sebangun dengan aktivitas Muhammadiyah Yogyakarta. Baru satu tahun memimpin SATV, pada bulan Juli 1918 H. Misbach mengundurkan diri dari kursi ketua, tapi masih tetap menjadi anggota (mubaligh SATV). H Misbach mengundurkan diri karena usahanya untuk membelokkan haluan SATV ke arah gerakan politik yang bersikap radikal terhadap pemerintah kolonial Belanda ditolak oleh pengurus yang lain. Penolakan ini menunjukkan bahwa koordinasi antara SATV dengan Muhammadiyah Yogya berjalan lancar. Muhammadiyah mengutamakan gerakan sosial dan pendidikan, bukan gerakan politik. Mundurnya H. Misbach (ketua) dan meninggalnya Darsosasmito (wakil ketua) tidak mengendorkan semangat kawan-kawan untuk terus berkiprah di SATV. Pada tahun 1919 disusun ulang kepengurusan SATV dengan mempertimbangkan keahlian masing-masing. Susunan kepengurusan baru tahun 1919-1920 di ketuai oleh kalangan muda energik berpengetahuan luas, Kyai Muchtar Buchary. Saat itu ia baru berusia 20 tahun. Kemudian berturut-turut dibantu oleh: R. Ng. Parikrangkungan (wakil ketua), M. Harsolumakso (penulis), R. Sontohartono (bendahara), dan pembantu adalah R. Ng. Sastrosugondo, R. Ng. Wignjodisastro, R. Sastrasumarto, R. Ng. Samsu Hadiwijoto, dan M. Abu Thoyib. Pada tahun 1921 beslit pemerintah Hindia Belanda telah membolehkan persyarikatan Muhammadiyah beroperasi dan membuka cabangnya di seluruh wilayah Nusantara. Namun demikian, mungkin karena harus mempersiapkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, baru pada tahun 1913 SATV dibubarkan dan berganti nama menjadi Muhammadiyah cabang Surakarta. Proses transisi SATV ke persyarikatan Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Kyai Muchtar Buchary. Amat disayangkan, dalam usia masih sangat muda menginjak usia 27 tahun beliau meninggal dunia, di tahun 1926. Perintis SATV Menyimak kronologi kemunculan SATV, sebagaimana uraian di atas, dapat diketahui bahwa orang-orang yang terlibat dalam upaya perintisan dan pengembangan SATV tidak sedikit. Namun demikian, ada dua tokoh yang perlu digarisbawahi, yaitu H. Misbach (1876-1924) dan Kyai Muchtar Buchary (1899-1926). Meskipun hanya satu tahun menjadi ketua SATV (1917-1918), tetapi ia telah meletakkan fondasi organisasi yang kokoh. Setelah lengser dari kursi ketua, H Misbach masih menjadi mubaligh SATV sampai akhir hayatnya dan mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk melakukan pembelaan terhadap petani, buruh, dan kaum miskin kota. Akibat tindakannya yang radikal, pada bulan Juli 2003 H. Misbach di buang ke Manokwari, Papua oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika dalam pembuangan, ternyata H Misbach masih berupaya mengenalkan Muhammadiyah di Indonesia bagian timur. Berkembangnya Muhammadiyah di Indonesia timur tidak lepas dari aktivitasnya. Selama di pembuangan, ia berhasil merumuskan gagasan kontroversialnya tentang sinergi “Islam dan Komunisme” yang memerlukan elaborasi secara jernih. Kalau H. Misbach adalah saudagar suskses yang menyukai aktivitas politik radikal, Kyai Muchtar Buchary seorang mubaligh intelektual yang berkemajuan. Setamat dari HIS, melanjutkan ke Madrasah Islamiyah Arabiyah hingga rampung, lalu belajar di pesantren Termas Pacitan. Di samping mengadakan kursus mubaligh, ia sebagaimana H. Misbach juga aktif menjadi redaktur di Medan Moeslimin, Islam bergerak, Bintang Islam, Majalah Al-Islam, dan Wewarah Islam. Melihat banyaknya majalah yang menjadi organ SATV Surakarta menunjukkan bahwa mereka sangat peduli dengan dunia tulis-menulis, sebuah aktivitas yang belakangan ini terabaikan.
Tags: pp , Muhammadiyah , pusat
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website